Hiii,,,

WELCOME TO MY BLOG

Jumat, 28 Mei 2010

INTERAKSI HEREDITAS DAN LINGKUNGAN TERHADAP PENYAKIT: UJI DIAGNOSTIK PEMERIKSAAN PENAPISAN FENOTIP


I. PENDAHULUAN
Kita sering mendengar pertanyaan, “Apakah penyakit ini menurun?” Dalam beberapa hal, pertanyaan tersebut tidak tepat. Faktor intrinsic hampir selalu terlibat dalam penyakit. Karena itu sebaiknya pertanyaan tersebut diungkapkan sebagai berikut, “Sampai seberapa jauhkah pentingnya faktor keturunan pada penyakit ini?” Walaupun pada penyakit infeksi yang jelas penyebabnya eksogen, faktor genetik dapat dan mempengaruhi kepekaan terhadap agen yang menular tersebut dan terhadap pola penyakit yang ditimbulkannya.
Berdasarkan alasan analitis, genetika terutama terpusat pada ciri-ciri yang di dalamnya hereditas tampak menonjol dan faktor lingkungan dapat diabaikan. Tetapi hal ini tidak bisa dipungkiri memberikan gambar satu sisi karena gen suatu individu tidak berfungsi in-vacuo. Mereka beraksi dalam seperangkat kondisi luar tertentu, dan banyak ciri-ciri manusia dan penyakit yang penyebab pentingnya tampaknya adalah sekaligus faktor genetik dan lingkungan. Oleh karena itu dalam hal ini penting sekali untuk memahami bagaimana konstitusi genetik individu bisa terungkap secara berlainan pada keadaan lingkungan yang berbeda. Tetapi masalah penguraian peran hereditas dan lingkungan dalam keadaan dimana keduanya tampak merupakan penyebab penting, secara analitis bersifat kompleks dan secara konseptual sering tampak sulit.
Dengan memperhatikan keseimbangan relatif antara keturunan dan lingkungan sebagai penyebab timbulnya penyakit, terdapat spektrum yang lebar. Pada ujung yang satu dari spektrum itu terdapat penyakit-penyakit yang terutama ditentukan oleh beberapa agen lingkungan terlepas dari latar belakang keturunan individu, sedangkan pada ujung yang lain terdapat penyakit-penyakit yang merupakan akibat dari perencanaan susunan genetik yang salah. Penyakit-penyakit yang terakhir ini mencakup yang biasanya disebut sebagai penyakit keturunan, penyakit yang diwujudkan pada hampir setiap orang pembawa informasi genetik yang salah tanpa mengindahkan pengaruh ekstrinsik. Hampir semua penyakit pada manusia berada diantara kedua ujung spektrum ini dan kedua faktor tersebut, baik faktor genetik maupun faktor ekstrinsik, saling mempengaruhi secara bermakna.
II. STRUKTUR DAN FUNGSI DNA
DNA dibentuk oleh dua untaian susunan molekul fosfat dan deoksiribosa secara bergantian dengan satu basa purin (adenine atau guanine) atau satu basa pirimidin (timin atau sitosin). Dalam satu nukleotida terdapat satu deoksiribosa, satu kelompok fosfat, dan satu basa, dan satu untai DNA merupakan polinukleotida. Basa tersusun seperti anak tangga dan deoksiribosa dan kelompok fosfat tersusun seperti tiang dari tangga tersebut. Kedua untai tersebut terkait pada satu aksis yang sama dan membentuk heliks ganda. Urutan basa pada satu untai berpasangan secara saling melengkapi dengan basa yang berada pada untai yang lain, sehingga adenine (A) pada untai yang satu selalu berpasangan dengan timin (T) pada untai yang lain, dan guanine (G) selalu berpasangan dengan sitosin (C). Pasangan basa ini diikat menjadi satu oleh ikatan hidrogen. Sewaktu terjadi replikasi DNA, maka urutan basa pada untai yang satu secara “otomatis” menentukan urutan basa pada untai yang lain. Dalam tahap persiapan pembelahan sel, untaian-untaian dalam heliks ganda berpisah dan masing-masing berfungsi sebagai tempat sintesis dari pasangan untaian yang baru.
DNA membawa informasi genetik dalam bentuk kode, kode tersebut disusun dengan memakai dua basa purin dan dua basa pirimidin. Tiga dari basa-basa ini dalam susunannya pada kode molekul DNA diperlukan untuk asam amino tertentuk dan dipakai sebagai sisipan pada peptida yang sudah ada. Basa-basa ini menyalurkan semua informasi yang diperlukan untuk sintesis protein. Suatu urutan tiga basa seperti ini disebut kodon. Pasangan basa sangat penting selama proses biosintesis protein, baik untuk RNA demikian juga untuk DNA. Sebenarnya semua DNA yang berada di dalam sel berkedudukan di nucleus, sedangkan sintesis protein dari asam amino terjadi dalam sitoplasma. RNA memainkan peranan sebagai perantara dalam menyalurkan kode informasi dari nukleus ke sitoplasma, kemudian membantu pembentukan rantai peptida.
Pada sel yang tidak membelah, DNA ditemukan hampir di seluruh bagian nukleus. Sewaktu sel mulai membelah, bahan tersebut mulai mengatur dirinya untuk membentuk untaian kromosom. Gen merupakan sub unit dari kromosom. Gen adalah bagian DNA yang menentukan produksi polipeptida yang mengendalikan perkembangan satu sifat bawaan tertentu.
Sel-sel tubuh manusia pada umumnya terdiri dari 46 kromosom atau 23 pasang, merupakan susunan diploid. Dari 23 pasang ini, 22 pasang disebut sebagai otosom, dan satu pasang kromosom seks. Wanita memliki dua kromosom X, dan pria memiliki 1 kromosom X dan 1 kromosom Y dalam setiap sel. Dalam terminology standar, seorang wanita normal ditandai dengan 46XX, seorang pria normal ditandai dengan 46XY. Gen-gen dari seorang individu membentuk genotip; ekspresi luar dari genotip, atau penampilan luar dari seorang individu disebut fenotip.
Kromosom dapat divisualisasi dan dipelajari dalam susunan yang disebut kariotip. Untuk menentukan kelainan-kelainan yang terjadi, sel-sel dari seorang individu, biasanya sel darah putih, ditanam pada medium pembiakan dan diinduksi untuk membelah. Mitosis dihambat dengan menggunakan bahan kimia sewaktu berada dalam metafase, karena untaian kromosom terlihat paling jelas. Setelah diwarnai maka dilakukan pemotretan kromosom, pasangan-pasangan kromosom dapat dikenal melalui ukurannya, posisinya dari sentrometer, dan panjangnya lengan. Kecuali kromosom seks, pasangan-pasangan kromosom lain tersusun dalam format standar.
III. PENYAKIT GENETIK
Secara klinis, penyakit genetik terbagi atas 2 kelompok yang berhubungan dengan:
1. Kelainan kromosom
Beberapa penyakit yang disebabkan oleh kelainan kromosom adalah sebagai berikut:
Sindrom Jacobs (47, XYY atau 44A + XYY)
Penderita mempunyai 44 Autosom dan 3 kromosom kelamin (XYY). Kelainan ini ditemukan oleh P.A. Jacobs pada tahun 1965 dengan ciri – ciri pria bertubuh normal, berperawakan tinggi, bersifat antisosial, perilaku kasar dan agresif, wajah menakutkan, memperlihatkan watak kriminal, IQ dibawah normal.
Sindrom Klinefelter (47, XXY atau 44A + XXY)
Penderita mempunyai 44 Autosom dan 3 kromosom kelamin (XXY). Kelainan ini ditemukan oleh H.F. Klinefelter tahun 1942. Penderita berjenis kelamin laki – laki tetapi cenderung bersifat kewanitaan, testis mengecil dan mandul, payudara membesar, dada sempit, pinggul lebar, rambut badan tidak tumbuh, tubuhnya cenderung tinggi (lengan dan kakinya panjang), mental terbelakang.
Sindrom Turner (45, XO atau 44A + X)
Penderita mempunyai 44 Autosom dan hanya 1 kromosom kelamin yaitu X. Kelainan ini ditemukan oleh H.H. Turner tahun 1938. Penderita Sindrom Turner berkelamin wanita, namun tidak memiliki ovarium, alat kelamin bagian dalam terlambat perkembangannya (infatil) dan tidak sempurna, steril, kedua puting susu berjarak melebar, payudara tidak berkembang, badan cenderung pendek (kurang lebih 120 cm), dada lebar , leher pendek, mempunyai gelambir pada leher, dan mengalami keterbelakangan mental.
Sindrom Cri du chat
Anak yang dilahirkan dengan delesi pada kromosom nomor 5 ini mempunyai mental terbelakang, memiliki kepala yang kecil dengan penampakan wajah yang tidak biasa, dan memiliki tangisan yang suaranya seperti suara kucing. Penderita biasanya meninggal ketika masih bayi atau anak – anak.
2. Defek pada gen dan tidak dapat dilihat pada analisis kromosom, tapi dapat dianalisis dari family tree atau dengan pemeriksaan biokimia dan tes biologi molekuler. Golongan ini dikenal sebagai penyakit akibat defek gen tunggal yang digolongkan sebagai mutasi baru atau penyakit keturunan yang diturunkan seperti:

a) Penyakit autosomal dominan
Huntington
Huntington merupakan suatu penyakit karena terjadi degenerasi sistem saraf yang cepat dan tidak dapat balik. Penderita menggelengkan kepala pada satu arah. Huntington disebabkan oleh alel dominan (H). Oleh karena itu, dengan satu alel H saja semua individu yang heterozigot akan mendapatkan Huntington. Individu normal mempunyai alel resesif (hh).
Polidaktili
Polydactyly ialah terdapatnya jari tambahan pada satu atau kedua tangan / kaki. Tempat jari tambahan itu berbeda - beda , ada yang terdapat dekat ibu jari dan ada pula yang terdapat dari jari kelingking.
b) Penyakit autosomal resesif
Anemia sel sabit
Penyakit anemia sel sabit disebabkan oleh substitusi suatu asam amino tunggal dalam protein hemoglobin berisi sel sel darah merah. Ketika kandungan oksigen darah individu yang diserang, dalam keadaan rendah (misalnya pada saat berada ditempat yang tinggi atau pada wktu mengalami ketegangan fisik), hemoglobin sel sabit akan mengubah bentuk sel – sel darah merah menjadi bentuk sabit. Individu yang menderita anemia sel sabit disimbolkan dengan ss. Sedangkan individu normal memiliki genotipe SS dan karier anemia sel sabit disimbolkan dengan Ss.
Albino
Kata albino berasal dari albus yang berarti putih.Kelainan terjadi karena tubuh tidak mampu membentuk enzim yang diperlukan untuk merubah asam amino tirosin menjadi beta-3,4-dihidroksipheylalanin untuk selanjutnya diubah menjadi pigmen melanin. Pembentukan enzim yang mengubah tirosin menjadi melanin, ditentukan oleh gen dominan A, sehingga orang normal mempunyai genotipe AA atau Aa, dan albino aa.
Phenylketonuria
Phenylketonuria merupakan suatu penyakit keturunan yang disebabkan oleh ketidakberesan metabolisme, dimana penderita tidak mampu melakukan metabolisme fenilalanin dengan normal. Asam amino ini merupakan bahan untuk mensintesis protein, tirosin dan melanin. Sebagian fenilalanin diubah menjadi fenil piruvat. Gejala penyakit ditandai dengan bertimbunnya asam amino dalam darah yang banyak terbuang melalui urin, mental terbelakang (IQ 30), rambut putih, mata kebiruan (produksi melanin kurang baik), bentuk tubuh khas seperti orang psychotic, gerakan menyentak – nyentak dan bau tubuh apak. Bayi yang menderita phenylketonuria mengandung kadar fenilalanin yang tinggi di dalam darah dan jaringan, karena tidak memiliki enzim phenylalanin hidroxylase, yang mengubah fenilalanin menjadi tirosin. Asam phenylpiruvatpun meningkat, diekskresi melalui urin dan keringat, sehingga tubuh berbau apak. Kadar fenilalanin yang tinggi dapat merusak otak bayi, dan mundurnya kejiwaan setelah berumur 6 tahun. Penderita mempunyai genotip phph (homozigot resesif). Orang normal mempunyai genotip PhPh (homozigot dominan) dan Phph (heterozigot).
c) X-linked resesif.
Hemofilia
Hemofilia merupakan gangguan koagulasi herediter yang paling sering dijumpai. Hemofilia disebabkan oleh mutasi gen faktor VIII atau faktor IX sehingga dapat dikelompokkan menjadi hemofilia A dan hemofilia B. Kedua gen tersebut terletak pada kromosom X, sehingga termasuk penyakit resesif terkait –X, yang disebabkan karena tidak adanya protein tertentu yang diperlukan untuk penggumpalan darah, atau kalaupun ada kadarnya rendah sekali. Umumnya luka pada orang normal akan menutup (darah akan membeku) dalam waktu 5 – 7 menit. Tetapi pada penderita hemofilia, darah akan membeku 50 menit sampai 2 jam, sehingga mudah menyebabkan kematian karena kehilangan terlalu banyak darah. Perempuan yang homozigot resesif untuk gen ini merupakan penderita (XhXh), sedangkan perempuan yang heterozigot (XhXH) pembekuan darahnya normal namun ia hanya berperan sebagai pembawa / carier. Seorang laki – laki penderita hanya mempunyai satu genotip yaitu (XhY).
Buta Warna
Penderita tidak dapat membedakan warna hijau dan merah , atau semua warna. Individu yang buta terhadap warna hijau (tipe deutan) dan merah (tipe protan) dikarenakan individu tersebut tidak mempunyai reseptor yang dapat mendeteksi cahaya pada panjang gelombang hijau atau merah. Buta warna merupakan penyakit yang disebabkan oleh gen resesif c (color blind) yang terdapat pada kromosom X. Perempuan normal mempunyai genotip homozigotik dominan CC dan heterozigotik Cc, sedangkan yang buta warna adalah homozigotik resesif cc. Laki – laki hanya mempunyai sebuah kromosom-X, sehingga hanya dapat normal XY atau buta warna XY.
Sindrom Fragile X
Nama sindrom fragile diambil dari penampakan fisik kromosom X yang tidak normal. Bagian kromosom X yang mengalami konstriksi (pelekukan) dibagian ujung lengan kromosom yang panjang. Dari semua bentuk keterbelakangan mental yang disebabkan oleh faktor genetik, bentuk yang paling umum adalah fragile.
Sindrom Lesch-Nyhan
Penyakit ini timbul karena adanya pembentukan purin yang berlebihan. Sebagai hasil metabolisme purin yang abnormal ini, penderita memperlihatkan kelakuan yang abnormal, yakni kejang otak yang tidak disadari serta menggeliatkan anggota kaki dan jari – kari tangan. Selain dari itu penderita juga tuna mental, menggigit serta merusak jari – jari tangan da jaringan bibir. Semua penderita adalah laki – laki dibawah umur 10 tahun, dan belum pernah ditemukan pada perempuan.
IV. DIAGNOSIS PENYAKIT GENETIK
Dalam hal penyakit genetis, deteksi dini secara molekuler saat ini sudah mulai digunakan untuk beberapa jenis penyakit keturunan. Pengobatan penyakit genetis tentu tidak dapat dilakukan dengan cara pengobatan kimia konvensional karena penyakit ini disebabkan oleh adanya mutasi pada tingkat DNA atau RNA. Penggantian DNA yang mengalami mutasi menjadi DNA normal dan dimasukkan kembali ke dalam tubuh saat ini masih merupakan tujuan jangka panjang. Metode pengobatan ini dinamakan gene therapy.
Kurang lebih 0,6% neonates memiliki kelainan kromosom mayor yang dapat menyebabkan peningkatan morbiditas atau mortalitas. Tetapi, sebagian besar kalainan kromosom menyebabkan kematian, dan hasil konsepsi lenyap pada tahap tertentu dalam kehamilan atau tidak melekat pada uterus. Sekitar 50% dari embrio dan fetus yang mengalami abortus spontan memiliki kelainan kromosom. Hilangnya sebagian kromosom atau duplikasi kromosom yang tidak menimbulkan kematian seringkali mengakibatkan bentuk tubuh disformik, retardasi mental, dan ketidakmampuan untuk berkembang. Trisomi otosom yang paling sering terjadi dan dapat tetap bertahan hidup setelah lahir adalah trisomi 21, sindrom Down; trisomi 18, sindrom Edward; dan trisomi 13, sindrom Patau.
Manifestasi klinis dari tiga sindrom trisomi yang dapat tetap hidup setelah lahir :
Kromosom
(genotip)
Nama
Umum
Gambaran Klinis
(fenotip)
Trisomi 21
47XX, +21
47Y, +21
Sindrom Down
Wajah: terdapat lipatan epikantus, fisura palpebra oblik, jembatan hidung lebar, profil wajah datar, mulut terbuka, lidah menonjol keluar.
Tubuh: tangan pendek dan lebar, garis tunggal di telapak tangan, ada celah yang besar antara jari kaki pertama dan kedua, telinga rendah, dan tag preaulikular, sering terdapat cacat jantung dan hipotoni
Berbagai derajat retardasi mental
Trisomi 18
47XX, +18
47XY, +18
Sindrom Edward
Aterm, berat badan lahir rendah
Oksiput menojol, mikrognatia, posisi telinga rendah dengan malformasi, labioskisis dan palatoskisis
Retardasi motorik dan retardasi mental berat
Jarang dapat hidup lebih dari beberapa bulan
Trisomi 13
47XX, +13
47XY, +13
Sindrom Patau
Aterm, berat badan lahir rendah
Wajah: hidung lebar, hipertelorisme, mikrognatia, deformitas pada mata; mikroensefali, posisi telinga rendah dengan malformasi, gangguan fleksi, polidaktili, dan sindaktili
Daya tahan hidup sangat rendah
Ekspresi fenotip dari gen dapat terjadi dalam satu dari empat macam pola keturunan: dominan otosomal, resesif otosomal, dominan terkait X, dan resesif terkait X (mendelian). Abnormalitas dari gen tunggal tak dapat diketahui dengan pemeriksaan sel secara mikroskopis, karena kariotip dari individu yang terkena normal. Adanya gen abnormal dapat dilacak dengan mengamati sebuah sifat bawaan fenotipik yang abnormal pada individu dan pada pohon keluarga. Abnormalitas gen tunggal dapat nampak dalam berbagai keadaan, mulai dari defek lokalisasi anatomis yang sederhana sampai pada gangguan yang tak nyata atau komples dari kimia tubuh. Populasi secara keseluruhan dari frekuensi gangguan gen tunggal adalah sekitar 1%, dengan 0,7% sebagai dominan, 0,25% sebagai resesif, dan 0,04% terkait X.
Dalam sebuah kategori abnormalitas gen tunggal, DNA yang menyimpang dapat mengakibatkan produksi molekul protein abnormal, misalnya, molekul hemoglobin. Sedikit penyimpangan pada struktur hemoglobin dapat mengakibatkan perubahan secara fisik dan dapat berkembang menjadi penyakit yang serius. Penyakit dapat terjadi akibat tidak adanya produk akhir, penumpukan substrat yang tidak terpakai karena adanya hambatan, atau akibat penimbunan produk darijalur metabolik lain yang biasanya sedikit dipakai akibat “terhambatnya” jalur metabolik yang biasanya dipakai. Contoh klasik dari keadaan yang disebabkan tidak adanya produk akhir adalah albinisme. Pigmen melanin tidak diproduksi, akibatnya tidak ada pigmen pada rambut, kulit, atau iris. Contoh yang lain adalah tidak adanya hormon tiroid yang mengakibatkan kretinisme, dan diabetes insipidus akibat tidak diproduksinya hormone anti diuretik oleh kelenjar pituitary.
Penyakit genetik dapat dipelajari dalam beberapa tingkat yaitu mulai dari tingkat populasi, keluarga, individu, sel, kromosom, dan gen. Pada tingkat populasi, mencari variasi penyakit genetik yang tidak dapat dipisahkan dari faktor lingkungan. Pada tingkat keluarga dan individu, apakah kelainan tersebut X-linked atau autosomal; pada tingkat sel, ekspresi protein dapat dipelajari, sedangkan pada tingkat kromosom dan gen banyak sekali kemajuan yang telah dicapai.

Dua pendekatan yang berbeda diterapkan untuk diagnosis penyakit-penyakit genetik dengan teknologi DNA rekombinan:
1. Diagnosis gen langsung, yaitu deteksi gen mutan.
Berdasarkan identifikasi perbedaan kualitas antara rangkaian DNA pada gen normal dan abnormal. Digunakan dua metode:
a. Satu berdasarkan kenyataan bahwa beberapa mutasi merubah atau menghancurkan tempat-tempat terbatas tertentu pada DNA normal. Sebagai contoh, gen β globin normal mempunyai tiga tempat terbatas untuk enzim Mst II, salah satunya hilnag pada siklus gen globin. Ini menghasilkan pita-pita dengan ukuran berbeda jika DNA dari individu normal dan individu yang terkena dicerna dengan Mst II serta dibandingkan dengan analisa Sauthern blot.
b. Analisa pemeriksaan oligonukleotida digunakan jika mutasi menghasilkan gen abnormal yang tidak mengubah tempat terbatas yang diketahui. Dua oligonukleotida dengan panjang 18 – 20 basa disintesa, di bagian tengah terdapat basa tunggal dimana gen normal dan gen mutan berbeda. Setiap oligonukleotida hibridisasi kuat dengan gen (normal) yang sesuai, tetapi lemah dengan gen yang tidak pada urutan yang tepat. Jadi pada analisa Southern blot gen normal dan gen mutan dapat dibedakan berdasarkan kekuatan hibridisasi dengan pemeriksaan dua oligonukleotida.
2. Diagnosis gen tidak langsung, yaitu deteksi ikatan gen penyakit dengan “petanda gen” yang tidak berbahaya.
Pada banyak penyakit genetik, gen mutan dan bagian normalnya belum diidentifikasi atau diurut, dan oleh sebab itu diagnosis gen langsung tidak dapat digunakan. Karenanya perlu memakai “pelacakan gen” yang menentukan apakah anggota keluarga yang mendapatkan atau fetus yang diturunkan mempunyai daerah kromosom yang sesuai dengan anggota keluarga yang terkena sebelumnya. Perlu dibedakan kromosom yang membawa gen normal dengan gen mutan pada heterozigot. Untuk ini, digunakan sifat variasi urutan DNA di sekitar (dan berikatan dengan) gen mutan. Analisa seperti ini disebut “Restriction fragment length polymorphism” (RFLP), berdasarkan polimorfisme DNA yang menimbulkan fragmen dengan panjang berbeda-beda pada analisa Southern blot. Misalnya pada fibrosis kistik, orangtua dan anak-anak heterozigot mempunyai dua pita yang berasal dari kromosom normal dan kromosom yang terkena. Sebaliknya individu (homozigot) yang terkena menunjukkan pita tunggal berasal dari dua kromosom identik yang membawa gen mutan.
Teknik RFLP telah terbukti berguna pada deteksi antenatal beberapa kelainan genetik seperti fibrosis kistik, penyakit Huntington, penyakit ginjal polikistik, dan sindroma Lesch-Nyhan. Bagaimanapun terdapat beberapa keterbatasan:
a. Untuk diagnosis prenatal, beberapa anggota keluarga yang terkena dan yang tidak terkena harus bersedia diperiksa.
b. Anggota keluarga yang menjadi kunci (misalnya orang tua, saudara kandung) harus heterozigot untuk RFLP (yaitu kromosom normal dan yang membawa gen mutan harus dibedakan dengan analisa Southern blot). Dengan perkataan lain, polimorfisme DNA informatif harus diberikan dengan gen yang dicari.
c. Rekombinasi antara kromosom homolog selama gametogenesis dapat menyebabkan hilangnya ikatan antara polimorfisme DNA dan gen mutan.
Selain secara RFLP, teknik analisis yang sering digunakan adalah sebagai berikut:
Southern blot
Bila struktur gen yang mengalami mutasi dan yang normal diketahui, dapat dilakukan hibridisasi dengan oligonukleotida tertentu yang telah didesain untuk hibridisasi tersebut.
Northern blot
Hibridisasi RNA dengan cDNA untuk melihat ekspresi atau produk gen tertentu.
Western blot
Identifikasi produk gen dengan dasar reaksi antigen antibody.
Setiap organisme mempunyai urutan DNA yang unik, pemeriksaan DNA dapat dipakai untuk mendeteksi semua mikroba. Dua metode yang digunakan:
a. Dot blot hybridization
b. In situ hybridization, yang dapat mendeteksi dan melokalisasi sel organisme
Keuntungan pemeriksaan DNA pada diagnosis penyakit infeksius adalah sebagai berikut:
a. Organisme yang sukar tumbuh atau tumbuh lambat dapat dideteksi dengan cepat.
b. Jumlah organisme yang sedikit (10­2) dapat dideteksi.
Sebagai tambahan nilainya pada diagnosis kelainan genetik dan infeksius, analisa pemeriksaan DNA berguna dalam (1) diagnosis beberapa bentuk kanker, dan (2) identifikasi positif individu untuk patologi forensik
.
V. PENUTUP
Telah diuraikan di atas mengenai interaksi hereditas dan lingkungan terhadap penyakit. Anomali atau malformasi congenital umumnya merupakan hasil interaksi dari gen-gen majemuk dengan beberapa keadaan lingkungan tertentu. Sebagian besar anomali congenital terjadi tanpa pola penurunan yang jelas. Penyelidikan pada kembar menunjukkan bahwa kemungkinan untuk mendapatkan anomaly tertentu pada tiap anak kembar lebih besar pada kembar identik daripada kembar fraternal. Lagipula banyak penelitian pada keluarga menunjukkan bahwa kerabat dari seorang yang menderita anomaly tertentu, mempunyai insidens yang lebih besar daripada populasi pada umumnya. Sebaliknya, peranan dari lingkungan sudah jelas, karena bahkan pada kembar identik sekalipun frekuensi dari anomali tertentu tidak sepenuhnya 100%. Pada segi lain, ada faktor-faktor lingkungan, seperti zat kimia toksik, obat-obatan, pengaruh fisik, dan virus-virus yang mengakibatkan anomali congenital. Tetapi, bahkan pada lingkungan teratogen yang sudah jelas dan kuat sekalipun seperti thalidomide, faktor-faktor lain (genetik dan/atau lingkungan) tetap harus diperhitungkan, karena tidak semua janin yang terkena pada masa kritisnya menunjukkan anomali. Tak perlu dikatakan lagi bahwa interaksi yang kompleks antara gen majemuk dan faktor-faktor lingkungan mengakibatkan anomali yang belum dapat dimengerti sepenuhnya.
Jelas bahwa karena suatu kondisi tertentu, bagian dari populasi yang secara genetis memiliki predisposisi mungkin sangat kecil atau sungguh besar, dan proporsi yang terpapar pada keadaan lingkungan yang merugikan demikian pula dapat berbeda-beda. Lagipula, pasti diduga bahwa banyak macam gen seringkali dengan satu dan lain cara menghasilkan jenis predisposisi tertentu. Kajian tentang genetik banyak penyakit bisa menimbulkan pencegahan atau perbaikannya dengan metode lingkungan semata-mata. Memang sangat mungkin bahwa salah satu penerapan medis dan sosial paling penting dari penelitian genetis terletak pada pengendalian lingkungan, karena semakin dimungkinkannya untuk mengkarakterisasi konstitusi genetis individu secara tepat semakin dimungkinkan untuk melihat bagaimana mengubah atau menyesuaikan lingkungan menurut kebutuhannya.
DAFTAR PUSTAKA
Elvita, A., dkk. Genetika Dasar. http://yayanakhyar.files.wordpress.com/2009/ 01/genetika-dasar_files-of-drsmed.pdf. Diakses tanggal 22 Mei 2010.
Harris, Harry. 1994. Dasar-Dasar Genetika Biokemis Manusia Edisi 3. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Nuswantara, S. dan Usep Soetisna. Era Bioteknologi dalam Pengobatan dan Diagnosis Penyakit Infeksi dan Genetis. http://katalog.pdii.lipi.go.id/index.php/searchkatalog/downloadDatabyId/4226/4227.pdf. Diakses tanggal 22 Mei 2010.
Pringgoutomo, S., Sutisna H., dan Achmad T. 2002. Patologi I (Umum) Edisi 1. Sagung Seto, Jakarta.
Robbins, S.L., et al. 1994. Dasar Patologik Penyakit, Binarupa Aksara, Jakarta.
Robbins, S.L., dan Vinay Kumar. 1995. Buku Ajar Patologi I. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
S. A. Price & L. M. 1994. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses Penyakit Edisi 4. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar